0

Menemuimu lagi

lama aku tak menyentuhmu lagi......maafkan aku karena di tengah kesibukanku ini aku tidak bisa meluangkan waktu sedikit saja untuk menjamahmu. aku tidak pernah bermaksud seperti itu.....bukan...sebenarnya bukan karena tak punya waktu, tapi entah mengapa aku terkadang butuh suasana yang kondusif untuk memulai menulis dan mengisimu dengan semua puing-puing dari otakku. tapi di tengah keterbatasanku di sini, kesibukanku di Pare, aku merasa belum bisa memusatkan otakku untuk mengisimu.......maka tolong maafkan aku jika untuk beberapa saat kamu tak terupdate lagi.........aku akan segera menemuimu lagi...setelah semua ini selesai........
0

Unik dan Aneh *2

Siang itu Mall Panakukang cukup dipadati oleh manusia-manusia yang katanya ingin mencari hiburan. Tapi alasan I ke Mall siang itu, tidak seperti alasan mereka. I berada ditengah-tengah pakaian serba indah namun indah harganya pula, berada diantara aroma roti yang menggugah selera dan mengempeskan dompet kalo nafsunya diturutin dan diantara pasangan muda-mudi yang sedang kasmaran karena harus menemani Dee belanja. Besok pagi sepupunya itu akan ke Bali, jadi katanya harus belanja dulu, nanti di Bali belanja lagi (ya ampun........!!!).


Setelah seharian berkeliling dan memasuki banyak toko, kini mereka sedang duduk didekat salah satu tempat playfun untuk menemani adik Dee yang baru tiba di Mall itu setengah jam yang lalu. Berbeda dengan mereka yang masih terlihat segar bugar untuk jalan-jalan, kaki I mulai kesemutan gara-gara berdiri kelamaan di salah satu toko hanya untuk mencari satu sendal. Ya……semoga saja I nggak farises. Sementara ketawa-ketiwi melihat tingkah laku adiknya Dee yang bisa dibilang lagi cari perhatian, matanya tertuju pada seorang cowok.


“Dee, coba kamu lihat cowok yang pake sweater abu-abu diarah jam 12.” Dee mencari seorang cowok sambil mencocokkan dengan jam tangan yang dia gunakan (capek deh!!!!).


“Kenapa dengan cowok itu?”


“Tinggal dipakein wig ama lipglos, dia udah bisa bikin jantung cowok kebat-kebit soalnya dia cantik banget.”


“Hehehehe…………….”


Waduh! Cowok itu berjalan menuju kearah mereka dan kini tepat berada dibelakang I. I pura-pura mengecek sms untuk mencari kesibukan, karena kelamaan membaca sms yang sudah basi, ia mencoba memberanikan diri memutar kepala 90 derajat dan memastikan bahwa cowok itu sudah nggak ada dibelakangnya. Hufh........akhirnya cowok itu pergi juga hampir aja I kena damprat kalau ketahuan lagi ketawain dia.


“Kak temenin ke ATM yuk” rengek Dee saat keadaan sudah aman.


Sementara berjalan menuju ATM, Dee tiba-tiba mengatakan kalau mereka berpapasan dengan cowok cantik itu lagi. Ya.....otomatis I mencari sosok cowok cantik itu yang ternyata kini berjalan tepat disampingnya. Secepatnya I berpaling dari cowok itu dan berlalu melesat bagaikan angin puting beliung. Karena hari sudah sore Dee pamit pulang duluan, tapi I tidak ikut pulang bersama Dee karena masih pengen jalan-jalan dulu.

***

”Hei!”


Wajah I merengut melihat sosok yang menyapanya.


”Muka kamu kok kayak gitu?.”


”Ada apa?”


Cuma senyum.


”Ada apa?”


“Kok ada apa! Mestinya kamu seneng dong aku sapa.”


“Ngapain juga aku mesti seneng.”


”Dari tadi kamu merhatiin aku kan. Kagum ya!”


Tersenyum dan sama sekali tidak ramah, ”Ya....ampun, tolong deh nggak pake narsis.”


”Kamu nggak usah pura-pura, emangnya kamu pikir tadi aku nggak ngeliat kalo kamu ketawa-ketiwi sama temen kamu waktu ngeliat aku.”


”Halo.....emangnya ketawa-ketiwi itu dah pertanda kagum ya!”


”Yup!”


”Gini ya....aku nggak suka ada orang yang kegeeran. Asal kamu tau aja, tadi itu bukan teman aku tapi sepupuku dan tadi itu juga bukan pertanda kagum sama kamu, kami ketawa karena heran aja ada cowok yang bukannya ganteng tapi kok cantik ya!”


Diam.


”Kenapa? Kok diam nggak bisa narsis lagi ya!”


Senyum, manis banget (ih apaan sih).


”Maaf deh kalo gitu, aku pikir kamu kagum sama aku.”


Sambil menghela napas, ”Aku juga minta maaf dah bilangin kamu cocan(cowok cantik)”. I pun segera beranjak dari tempat itu.


”Eh tunggu dulu dong kok main nyelonong aja! Aku dah habisin waktu aku beberapa menit untuk kamu, masa’ aku nggak dapat apa-apa, minimal kenalan.”


”Maaf ya! Aku nggak punya waktu untuk ngeladenin mahluk asing kayak kamu.”


”Namaku Dika, kamu?”


”I, udah ya....aku harus buru-buru ke kampus.”


”Singkat amat.”


”Masalah ya buat kamu?”


”Ya....nggak juga sih. Kita bisa temenan kan!”


”Maaf, tadi kan aku dah bilang aku nggak suka bicara sama orang asing.”


”Kita kan dah kenalan, masa’ masih dianggap asing.”


”Heh, aku tahu wujud dan mukanya Alien itu kayak apa, tapi masih disebut mahluk asing kan! Jadi kamu masih tetap orang asing, aku pergi dulu.” Dika menarik tangan I.


I melihat tangan yang bisa dibilang cukup putih untuk ukuran cowok itu udah menyentuhnya tanpa permisi. ”Eh......eh.....lepasin nggak! Ngapain kamu pake narik-narik tangan aku, kamu berniat jahat ya!”


“Nggak, setidaknya aku boleh tahu dong kamu kuliah dimana?”


“Fakultas Psikologi salah satu perguruan tinggi negeri, puas!”


“Kamu emang mahluk Tuhan yang paling unik ya!”


”Kamu mahluk Tuhan yang paling aneh,” ucap I sambil berlalu pergi.

***

0

Unik dan Aneh *1

Lima tahun yang lalu saat aku masih duduk di bangku kelas 3 SMP, dari sudut mataku, wajahnya tertangkap. Parasnya cukup tampan, tapi sempat tidak membuatku tertarik. Sampai akhirnya mimpi itu datang, mimpi yang berhasil membuat jantungku berdebar dengan kencang dan membuatku terpaku lama diatas bantal mencoba menganalisis apa yang terjadi. Belakangan aku tahu kalau cowok itu sedang berlatih untuk sebuah acara. Setiap waktu berlalu dengan setiap usaha untuk bisa bertemu dengannya tapi lebih memilih memperhatikannya dari jauh.
Oh......Tuhan aku jatuh cinta.


Gadis sederhana yang apa adanya, tidak cantik, tidak putih, tidak juga lembut bahkan cenderung tomboy, walaupun kadang ada yang bilang ia manis itulah I. Aneh ya hanya I, tapi buatnya nama itu sangat berarti, walaupun tidak tahu apa yang tengah ada di benak kedua orang tuanya sampai tega menamainya hanya dengan satu huruf dari 26 jenis huruf alphabet. Tapi ada satu hal yang ia temui dan membuatnya selalu bahagia, dimana ketika orang lain menyebut namanya, maka akan selalu ada senyum yang terlukis di wajah mereka. Walaupun mungkin mereka tidak sepenuhnya ingin tersenyum, namun setidaknya I membantu meregangkan otot disekitar mulut mereka untuk sedikit bergerak kesamping, yang mungkin telah bosan manyun terus hehehe........katanya hidup itu harus dinikmati.

***

Pagi yang penuh dengan keajaiban, burung-burung bernyanyi diluar sana. Udara segar berhembus menghilangkan embun yang berada di setiap dedaunan. Kedengarannya puitis banget ya tapi eh....emang itu kenyataannya perhatiin aja diluar kamar kamu di pagi hari pasti kayak gitu. Namun lagi dan lagi, I tidak menikmati udara pagi itu. Sekarang dia tengah berada di bawah selimut dengan gaya yang mencoba menguasai seluruh ranjang. Hanya berguling-guling di atas tempat tidur dan terus memeluk bantal guling kesayangannya dibalik derasnya hujan.

I meraih handphone dan melihat dilayarnya tertera 09. 10 am. Dengan dahi yang mengerut dan pandangan yang masih belum jelas, ia beralih pada jam beker perak mungil diatas meja belajarnya yang ternyata menunjukkan pukul 08.10 am. “Ooowww...........aku salah jam lagi” ucapnya sambil menepuk dahi yang terlihat sedikit lebih mengkilat karena minyak yang diproduksi berlebihan pada wajahnya. Saat akan menikmati tidurnya kembali, bunyi perut yang menyuarakan hak kebebasan menikmati makanan mengalun dan membuat I mengangkat seluruh tubuhnya untuk beranjak ke dapur. Mie instan dan telur menjadi santapannya di pagi, eh...... menjelang siang itu.

Drrrttt.....drrrrt....drrrt.....ku akui ku sangat menginginkanmu tapi kini ku sadar ku diantara kalian.....drrrt...drrrrt.........

I berjalan lebih cepat menuju kamarnya dan mencari arah suara itu berasal. Ia menemukannya di bawah bantal guling dan kelihatannya dari tadi udah megap-megap minta diperhatikan. “Ah......Dee minta ditemani lagi nih, kayaknya ini sinyal betisku bakalan bengkak hari ini” ucap I membanting dirinya diatas tempat tidur dan memicingkan matanya kembali membaca kata-kata disms itu seperti kapten bajak laut bermata satu. Hujan diluar sana terus menerus menerjang bumi. Lagi-lagi global warming, I jadi ingat slogan yang dilihatnya di salah satu Universitas negeri di Makassar “Global Warning for Global Warming”.

“Lagi musim hujan begini mau jalan-jalan, enakan juga tidur” ucapnya dalam hati. Kata-kata itu seolah menjadi ucapan pemisah sementara dari alam sadar karena kini I telah kembali bercengkrama dengan alam mimpinya. Namun beberapa jam berlalu setelah ia yakin sudah mengembara jauh di alam mimpi, semuanya hilang dirusak oleh bunyi krriiiiiiiingg.........yang bergema diseluruh penjuru kamarnya. Ah....jam mungil perak itu sudah menunjukkan pukul 04.30 pm. I beranjak dengan langkah gontai menuju kamar mandi untuk membasahi tubuhnya dan bersiap-siap menuju Mall.

I berjalan mengambil rok hitam kesayangannya dan baju putih dengan bahan yang cukup hangat. Semua peralatan mulai dari headset, dompet dan buku yang ia namai buku penulis telah siap di dalam tasnya. I melangkah keluar rumah dan mencari sendalnya di balik kegelapan maklum malam itu lampu terasnya lagi mati. Ah itu dia, I mendekati sebuah sendal biru tanpa tahu bahwa bahaya tengah mengintainya saat itu. I menggunakannya dan mahluk kecil berwarna merah dengan jumlah yang entah puluhan atau malah ratusan siap-siap membuka mulutnya, membasahi sedikit kerongkongannya dengan air liur agar lebih memudahkannya melumpuhkan mangsa, mengeluarkan taringnya yang seperti drakula dan 1....2.....3.....akh....menggigit kaki I secara bersamaan. “Huuaaaaa.......semut merah, adow,,,,.....sakit....sakit” teriak I seketika. Melihat satu ember air didekat pintu rumah, membuatnya segera mengambil tindakan pertolongan pertama yaitu dengan mengguyur kakinya yang tengah dirongrong mahluk merah. Mungkin mereka mengira tiba-tiba ada banjir bandang kali ya.......!. I menjalankan motor sambil menahan perih di atas kakinya menuju Mall.
***
0

StorI Ovel part 1: Menu itu

Jam beker hijau dengan boneka anjing melet-melet berwarna cokelat diatasnya kini menunjukkan pukul 2 siang, dengan sedikit gaya menggeliat dari selimut hijau kekuningan aku keluar seperti kupu-kupu yang baru saja terlepas dari kepompongnya. Aku tidak tidur tapi hanya berlindung dari sengatan hawa dingin dibulan itu. Ku hampiri kuping cangkir yang berisi seperdelapan kopi susu di atas meja yang menggodaku dengan kerlingan matanya dan sedikit bisikan bahwa aku harus segera menghabiskannya sebelum binatang dari antah berantah jenis apapun berhasil mendahuluiku.

Ku perbaiki letak sandal rumahku yang hampir ku gunakan dengan posisi kaki yang tidak sesuai. Aku melangkahkan kaki menuju dapur sambil memegang pinggangku. Ehm.....rupanya ada beberapa kantong lemak yang bertambah disana, pantas saja orang-orang bilang aku mulai gemuk. Ruangan itu sedikit gelap karena hujan yang mendera sejak pagi tadi. Irisan bawang merah dan bawang putih, langkah pertama sebelum membuat menu spesial untukku sendiri. Auch......pisau yang ku gunakan membuat sedikit goresan kecil diatas jari manisku yang beruntung tidak mengeluarkan darah. Saat warna merah pada rice cooker telah berganti menjadi warna hijau menandakan beras yang ku masak telah matang, aku segera menyiapkan beberapa bumbu lainnya. Aroma harum tumisan bawang merah dan bawang putih seketika memenuhi ruangan, nasi putih yang masih mengepul pun segera bermain-main diatas wajan. Aha.....kemarin aku kan beli korned kayaknya cocok dengan nasi goreng ini plus mie instan goreng satu bungkus. Hhhmmmm..................makan siangku jadi lebih spesial.

Makanan yang dibuat sendiri dengan susah payah walaupun sangat sederhana memang jauh lebih nikmat dari pada makanan yang langsung didapatkan dari diluar sana. Ku letakkan menu makan siangku di atas meja depan TV dan mengutak-atik channel untuk menemukan sebuah acara yang cukup baik menemaniku santap siang. Menu itu kini berpindah tempat dari piring keramik putih menuju organ yang berbentuk seperti buah mangga di dalam perutku. Sedikit air ku tuang di atas piring dan mengusapkan sisanya pada perutku. Ini adalah sebuah ritual dalam suku bugis setelah menikmati makanan. Aku juga tidak mengerti apa maknanya atau mungkin itu adalah ungkapan rasa syukur.....entahlah, yang ku tahu ritual itu telah dibiasakan padaku sejak kecil jadi walaupun kelihatan sepele, aku selalu melakukannya (ya....kecuali kalo aku makan diluar rumah kan nggak mungkin).

Masih ada waktu sebelum Rapat Kerja pikirku. Setelah meletakkan piring makanku di bak cuci piring, aku bergegas menuju kamar dan membuka tas cokelat yang tadi ku letakkan diatas ranjang. Sebuah buku yang tidak terlalu tebal dengan sampul berwarna kombinasi hijau cokelat kini siap menemaniku sore itu. Gaya bersandar pada dua bantal yang tertumpuk segera ku lakoni di samping jendela sambil membuka setiap lembaran novel itu dan tenggelam didalamnya.
0

Bocah kuning

“Bocah ini kenapa sih…..!!!”
Aku berujar dalam hati dengan mata yang tetap menatap novel merah di hadapanku. Sesekali ku perhatikan bocah laki-laki yang duduk di sampingku itu dengan ekor mataku.
Aku ingin memastikan kira-kira usia berapa bocah ini?
Wajahnya tampak masih sangat polos, tubuhnya cukup kekar, dengan seragam bola berwarna kuning dan celana pendek berwarna biru muda seolah belum bisa menunjukkan jiwa mudanya tanpa disandingkan dengan sandal jepit kuning terang yang digunakannya. Yah………bocah ini sepertinya masih SMA.
Pagi ini, aku tengah berada di sebuah ruang tunggu bengkel resmi. Sejak kemarin, si biru bermasalah dan meminta haknya untuk mendapatkan perawatan. Aku satu-satunya manusia berjenis kelamin berbeda di tempat ini dari semua mahluk yang sejak tadi nongkrong dan berusaha membetah-betahkan dirinya pada pekerjaan yang palin g menyebalkan_menunggu. Mereka semua adalah laki-laki yang berusia sekitar 20 hingga 40 tahun. Hem….kenapa tidak ada satupun pengendara wanita yang menemaniku di ruangan ini, apakah beberapa diantara mereka hanya tahu menggunakan kendaraan roda dua itu dan giliran harus melakukan perawatan akan diserahkan pada anggota keluarga berjenis kelamin pria????
Sesekali mataku beralih dari TV penghilang rasa bosan yang sengaja ditempatkan di ruang tunggu itu dan novel merah di tanganku, hingga bocah kuning itu datang, duduk tepat di sebelahku dan menyita perhatianku.
Risih…..jelas, sejak tadi bocah kuning itu tidak pernah bisa berhenti menggerakkan anggota tubuhnya. Ia bergerak terus entah menggoyangkan kakinya, sesekali melempar-tangkap handphonenya, serta berdiri dan melihat para montir itu mengerjakan motornya. Bocah kuning itu seolah tidak bisa diam, dugaanku: ia sudah tidak sabar menunggu motornya dan merasa ruang tunggu ini benar-benar membosankan.
Namun, tawanya tiba-tiba saja meledak saat melihat TEAMLO beraksi di TV. Menurutku tawanya berlebihan, kursi bersambung yang ia dan aku duduki bahkan terus bergoyang mengikuti irama tawanya. Ia memegangi perutnya sambil tertawa keras seolah tempat itu bukanlah spot umum tapi dianggapnya seperti kamar pribadinya. Badannya perlahan-lahan menyusut meninggalkan kursi dan hampir terjatuh ke lantai. Aku hanya menggaruk-garuk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal melihat kelakuan ajaib bocah kuning itu. Bagiku responnya terhadap apa yang ia tonton lebih menarik perhatian ketimbang apa yang ia tonton. Bocah aneh……pikirku.

1

Regresi, I think




Kepulan asap berada disekitarku, aku sadar sedang berada diantara kendaraan pribadi dan kendaraan umum yang saling berebut celah sempit agar dapat segera sampai ditempat tujuan. Aku mencoba meregangkan keteganganku yang harus mengendalikan sebuah kendaraan yang cukup berat untuk ukuran wanita yang sehari-hari menggunakan rok. Bagi kalian yang biker sejati, cobalah mengendarainya diantara kerumunan alat transportasi itu disiang yang mampu membuat segala jenis pemutih tidak berfungsi.
Aku menatap ke atas dan melihat awan yang setelah ku perhatikan dengan lebih baik ternyata menggambarkan seorang gadis dengan gaunnya yang indah dikejar-kejar oleh gumpalan awan yang tak berbentuk. Aku mampu mengimajinasikan awan tersebut menjadi sesuatu yang bermakna karena awan itu menggambarkan keadaan diriku. Dunia yang penuh dengan keindividualan kini ku buktikan tidak menyenangkan. Zaman seperti sekarang menciptakan manusia-manusia dengan segala keindividualannya yang terkadang tidak peduli dengan sekitarnya dan zaman itulah yang telah membentukku sejak dua tahun lalu.
Aku mungkin bukan orang yang sangat tidak peduli dangan sekitarnya tapi untuk taraf normal aku terkadang melakukannya. Banyak orang mengatakan bahwa keadaan transisi terjadi pada masa remaja, tapi tidak denganku. Aku mengalaminya diusia yang kata orang sudah dewasa, 20 tahun. Terkadang aku merasa mungkin aku mengalami regresi, yang menurut Freud salah satu tokoh psikologi adalah keadaan dimana seseorang mengalami kemunduran perilaku. Bagiku, regresi tidak terjadi dengan sendirinya tapi aku menginginkannya.

2 Juni 2009

(Huaaa....1 tahun yang lalu........!!!)

0

ehm....apa bisa disebut cerpen???

Asap kendaraan dengan bau yang menyengat beterbangan dimana-mana, menyumbat lorong-lorong pernafasanku membuatku ingin mengeluarkan semua isi perutku. Ini jalanan atau pabrik, asapnya kok banyak sekali, pikirku. Mobil terus melaju menembus asap putih mirip es kering yang menutupi pandangan mata, aku mencoba mengatur perasaanku. Aku teringat pesan ibuku “perutmu jangan ditekuk, karena keadaan seperti itu memungkinkan orang untuk mengalami mual bahkan sampai muntah”. Aku tersenyum dan mencoba melaksanakan saran Ibuku, pikirku mungkin saja berhasil.
Saat melintasi gunung-gunung yang begitu kokoh aku berpikir andai saja aku sekokoh dan setegar gunung itu. Di sisi kiriku terlihat jurang yang terjal menganga dan siap menelan korban layaknya masalah yang siap menenggelamkan manusia yang tidak mampu bertahan seperti gunung disisi kananku. Terasa lega kali ini, udara sejuk mulai mendinginkan loong-lorong gelap pernafasanku. Kicauan burung terdengar dibalik pepohonan melantunkan nyanyian indah bagai seorang pujangga menyenangkan hati kekasihnya dikala duka menyelimuti dengan beberapa bait puisi. Suasana itu begitu indah seolah telah disetting oleh Allah untuk menenangkanku. Aku pun teringat kenangan-kenangan saat aku masih polos dan yang ada diotakku hanyalah bersenang-senang tanpa memikirkan berbagai masalah yang seolah-olah menyerupai gunung berapi yang siap meledak. Aku serasa melihat flash back saat aku berlarian dipematang sawah sambil mencoba menangkap capung yang beterbangan. Suara mungil kami terdengar sangat bahagia. Tubuh kami terselimuti lumpur tapi hati kami seputih dan sebersih kapas karena kami sama sekali belum merasakan bahkan membayangkan kejamnya dunia diluar sana.
Saat langit mulai memperlihatkan sapuan warna jingga yang mempesona, nenek pun berteriak memanggil kami untuk pulang. Kami berlarian menuju sumur kecil yang tidak jauh dari rumah dan membersihkan lumpur-lumpur yang melekat ditubuh mungil kami. Kami shalat berjamaah, kemudian menyelami berbagai ilmu pengetahuan yang tersaji didalam sebuah lembaran-lembaran kertas yang menyatu, tanpa televisi dan menikmati semua kesederhanaan ini. Setiap kali jam menunjukkan pukul 8 malam kami segera membereskan semua buku-buku dan bersiap-siap untuk tidur. Sebelum tidur kami mengusir nyamuk yang mencoba masuk ke dalam kelambu menggunakan sarung. Dibalik kelambu yang warnanya telah berubah menjadi agak kecoklatan itu dan diselingi suara-suara binatang malam kami bergurau dan saling mengganggu sampai akhirnya kami terlelap dibuai mimpi.
Belokan tajam disisi gunung menyadarkan aku dari lamunanku. Aku menarik napas panjang mencoba menghirup udara segar yang diberi oleh-Nya tanpa bayaran apapun. Sejenak melepaskan perasaan tidak nyaman yang selalu menderaku dalam perjalanan, aku mencoba mencari rambu jalan yang menunjukkan seberapa dekat atau jauhnya aku dengan tujuanku, “masih lama” pikirku setelah melihat tulisan Watampone 85 km lagi. Ujung kerudungku menari-nari dipermainkan angin yang menyusup dari jendela mobil yang sedikit terbuka. Mobil kami terus melaju dan berputar menyusuri jalan yang berliku seperti obat nyamuk. Panorama indah yang tersaji dihadapanku sempat membuatku tidak menyadari bahwa kami telah memasuki salah satu desa.
0

Hanya dengarku......

Laju dan terus melaju kencang sambil menatap segumulan semak yang tak jelas hanya terlihat seperti coretan yang bergaris panjang. Benda elektronik yang tergantung di leherku terus berbunyi menyeruak di tengah kensunyian malam. Pantulan gambar dari jendela sebelahku menunjukkan spion mobi yang memantulkan cahaya-cahaya di belakangnya. Dari jendelaku terlihat seperti kumpulan cahaya bintang yang menawan. Malam itu, aku mulai menyadari dari beberapa kali alat elektronik di leherku itu menyala, dia selalu bercerita tentangnya, semua yang dia alami tanpa sadar bahwa aku pun ingin bercerita, mengisahkan sesuatu, dan mendengar tanggapannya. Hanya dengarku yang dia butuhkan tanpa menyadari aku juga membutuhkan dengarnya. Ku tautkan jari jemari milik kedua tanganku untuk menikmati alunan musik dan mengabaikan semuanya.
0

Tulisan dikala menunggu membuatku jenuh



Tiga hari dengan rutinitas yang sama yaitu berada diruangan ini dengan durasi kurang lebih setengah jam, aku merasa telah mampu mendeskripsikan kebiasaan-kebiasaan para pegawai dihadapanku. Seorang pria dengan beberapa rambut putihnya duduk sebagai pimpinan. Ia bekerja di balik sebuah meja besar di bagian tengah sisi sebelah kanan ruangan. Setiap kali aku memasuki ruangan ini, selalu saja ku temui asap rokok mengepul yang sebenarnya kurang tepat disandingkan dengan beberapa alat pendingin ruangan. Pria itu adalah seorang pimpinan yang bisa ku katakan patut disebut pimpinan teladan. Ia hampir selalu ada diruangn itu, baik aku datang dihari yang sudah memasuki jam istirahat ataupun aku datang sejak pagi. Dia pasti telah bertengger di kursinya dengan mengamati laptop dan komputer dihadapannya secara bergantian, menyelesaikan pekerjaannya sambil sesekali mengkonfirmasi beberapa jenis pekerjaan melalui telepon selular.

Satu kebiasaan yang tidak ku sukai diruang itu adalah semua pegawai laki-laki pasti menyelesaikan pekerjaan mereka sekaligus bersamaan dengan melahap beberapa batang rokok, tidak terkecuali pimpinan yang kepribadiannya ku kagumi itu.

Pegawai lain yaitu seorang wanita paruh baya yang melengkapi penampilannya dengan sebuah jilbab disudut ruangan sebelah kiri, pun tidak luput dari pengamatan dan analisisku. Wanita itu jarang sekali mengeluarkan suaranya melainkan hanya sibuk dnegan setumpuk pekerjaannya. Sesekali ia mengambil beberapa map di bawah meja atau di dalam lemari di belakang mejanya. Ia juga sesekali tampak merapikan segala sesuatu yang duduk manis di atas mejanya, seolah tidak membiarkan satu barang pun berserakan dan tersimpan tidak teratur.

Sejalan dengan kondisi wanita paruh baya itu, pria hitam pendek, seorang pegawai yang terlihat lebih muda, yang duduk di sisi sebelah kiri tepat di samping pimpinannya dan dipisahkan oleh sebuah lemari panjang itu juga lebih suka mengunci mulutnya lebih rapat. Ia selalu menekuri pekerjaannya yang sekilas terlihat dari tempatku duduk, hanya berupa beberapa potongan angka yang bagai semut memenuhi layar Microsoft excelnya. Ia adalah seorang pegawai yang tidak pernah tampak berbicara banyak atau sekedar menimpali dan ikut dalam perbincangan di ruangan itu. Ia hanya menyunggingkan senyum atau mengerutkan kening dengan mulut yang tetap mengatup.

Sangat berbeda dengan kondisi pria gemuk yang meja kerjanya tepat berhadapan dengan tempat dudukku. Ia mengerjakan pekerjaannya dengan disertai mulut yang terus mengoceh entah menyalahkan proposal, menyalahkan seseorang, pemerintah, bahkan pilkada. Ia tidak pernah tenang duduk di tempat duduknya. Ia pasti menghabiskan sebagian waktunya dengan berjalan kesisi lain ruangan sambil membiarkan ampas rokoknya bertebaran memenuhi lantai yang sebelumnya licin mengkilat itu.

Oh iya……selama tiga hari aku berkunjung ke ruangan ini secara berturut-turut, setiap menit tidak pernah luput dari tamu yang silih berganti menemui pimpinan (laki-laki rambut uban itu). Entah hanya untuk sekedar duduk sambil menghabiskan beberapa batang rokok dan obrolan ngalur ngidul atau sekedar mengelesaikan beberapa urusan.

Dan kini aku mulai lelah menunggu, apakah selalu, setiap kali berbenturan dengan urusan yang mengharuskan seseorang berhubungan dengan sebuah instansi, seseorang lantas harus mengalah dan memaklumi semua hal karena kita yang butuh. Tidak bisakah kita, baik yang butuh atau dibutuhkan saling bekerja sama dan sadar untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin karena ia selalu mengejar dan tidak membiarkan kita menunggu hanya untuk hal yang sepele. Sekarnag, telah beberapa lembar tulisanku di buku ini, dan orang yang ku tunggu (pria berkumis) itu belum juga menampakkan hidungnya. Kesal, tentu, tapi apa yang bisa ku lakukan selain menunggu.

Sulitkah bagi bapak berkumis itu untuk mengerti bahwa aku juga memiliki segudang aktivitas dan bukan hanya untuk menolerir aktivitas pribadinya.

Makassar, di sebuah gedung berwarna krem, diatas sebuah kursi, dengan mata murung, telinga mendengarkan lagu untuk menawarkan rasa kesal, dan dengan hati yang amat sangat jenuh serta tentu dengan tubuh yang telah lelah menunggu, 30 Juni 2010.
0

Share with writing

Um………menulis adalah sebuah kegiatan yang sampai sekarang tidak ku mengerti mengapa aku begitu menyukainya. Bukan hanya sekedar menulis catatan kuliah tentunya, tapi lebih dari itu. Mulai dari sekedar mencatat schedule yang mesti ku lakukan dalam beberapa jam atau dalam sehari (maklum………aku adalah salah seorang manusia yang harus mencatat segala sesuatu yang akan ku kerjakan tentu saat pekerjaan tersebut sangat banyak dan beragam sehingga sulit dikelompokkan dalam satu kategori aku selalu menyebut kebiasaanku ini adalah time program a.k.a program atau kebiasaan yang bisa ku handle agar waktu yang ku gunakan tidak sia-sia). Em kembali ke topik……….selain sekedar mencatat schedule yang mesti ku lakukan, aku juga telah terbiasa menuliskan setiap kejadian yang terjadi pada hidupku (aku menyebutnya lompatan pikiran), tidak setiap hari tapi selalu membuatku memandang hidup dengan menyenangkan seperti kembali memutar ulang mesin waktu kembali pada periode waktu itu saat aku membaca setiap tulisan-tulisanku. Satu lagi kebiasaanku menulis yaitu novel atau sekedar cerpen, kebiasaan ini sangat membantuku mengatasi kemampuan mengkhayalku yang sudah diluar batas kewajaran yang biasanya ku lakukan di tepi-tepi waktu menjelang mimpi menggelayutiku dimalam hari.

Oke…..cukup penjelasan mengenai diriku, saat ini aku lebih ingin membagi beberapa referensi yang pernah aku dapatkan mengenai kepenulisan. Tentu tulisan ini sebagian ku kutip dari beberapa referensi tapi maaf kali ini aku tidak bisa mengikuti kaidah karya tulis ilmiah yang benar yaitu menyantumkan penulisnya. Bukan maksudku untuk melakukan tindakan plagiat. Hanya saja aku lupa dari mana aku mendapatkan pengetahuan ini, aku hanya ingin membaginya saja. Sekedar share aku rasa tidak apa-apa kan untuk mentoleransi kutipanku tanpa penulis aslinya. Mohon dimaklumi tapi aku harap pembaca bisa menarik sebuah hikmah dari tulisan ini, em…..setidaknya pembelajaran walaupun aku bukanlah seorang guru yang baik.

Pertama, aku akan membahas sebuah ilmu hipnotis yang disebut HYPNOTIC WRITING. Bukan….bukan….bukan seperti jenis hipnotis yang ada di TV..TV….atau dari beberapa pelatihan yang mungkin pernah pembaca ikuti. Jenis hipnotis ini digunakan untuk mengubah persepsi seseorang kepada sudut pandang yang kita inginkan (kita a.k.a penulis), atau bisa disebut juga dnegan menghipnotis pembaca agar tertarik dengan tulisan yang kita buat.

Misalnya:

“Wulaupan eajan tilasun ini slaah tatpei kmau tteep bsia bcaa, kernaa utarun hruuf drai ktaa tadik jdai mlsaah, asakln huurf ptmeraa dan trakhier bedara di teapmt ynag baenr.”

Nah, contoh di atas menunjukkan bahwa betapa mudahnya sudut pandang dan pikiran kita tertpu oleh tulisan, hanya dnegan mengubah persepsi seseorang kepada sudut pandang yang kita inginkan.
Beberapa tips yang pernah ku dapatkan dr salah satu penulis (lagi…lagi…saya lupa namanya siapa):
1.Tentukan dulu tujuan atau hasil yang ingin dicapai dari tulisan kita
2.Tahu betul apa yang ingin kita tulis, seperti manfaatnya bagi kita sendiri dan orang lain
3.Mulailah menulis dengan kreatif, dnegan cara merevisi setiap selesai menulis (tambahan dari aku pribadi, cobalah untuk selalu going the extra miles: berusahalah untuk tidak menjadi rata-rata)
4.Berikan naskah kepada orang lain dan biarkan mereka member komentar yang jujur
5.Perbaiki tulisan berdasarkan hasil flashback dari komentar-komentar orang lain

Kemudian hal kedua yang ingin aku bagi adalah mengenai detil dalam kisah fiksi, singkat saja:

Cerita kamu akan lebih nyata jika dibantu dnegan detil. Manusia memiliki berbagai macam indera. Gunakan indera tersebut untuk membuat cerita kamu semakin nyata di mata pembaca. Misalnya kedetilan dari segi fisik, penampilan, sifat, karakter, dan seting tempatnya. Sediakan waktu untuk detil pada setiap tokoh dan setting tempat serta setting waktu. Tapi jangan terlalu berlebihan karena nanti pembaca mual membacanya dan akhirnya menghentikan tindakannya membaca tulisan kamu. Cukup sampai pembaca merasa benar-benar mampu mengimajinasikan lokasi atau watak tokoh tersebut.

Oke, mungkin ini saja yang bisa saya bagi kepada orang lain, saya bukan guru kepenulisan karena saya pun masih belajar. Tapi sebagai pembelajar yang baik kita mesti saling berbagi, bukan. Tetaplah menulis karena dengan menulis itu adalah sebuah kesadaran sejarah.

“Without words, without writing and without books there would be no history, there could be no concept of humanity”
Anterior Inicio

SlideShow